Skip to main content

Perbandingan Menghafal Al Qur'an Di Zaman Para Sahabat Dengan Zaman Selain Mereka.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan: 

Suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab. Segera Khalifah Umar bertanya kepadanya perihal masyarakat di negrinya. Lelaki itu menjawab: Wahai Amirul Mukminin, di tengah mereka saat ini sudah ada sekian banyak orang yang menghafal Al Qur’an.
Mendengar kabar tersebut, spontan sahabat Ibnu Abbas berkata: Sungguh demi Allah aku tidak senang bila mereka terlalu cepat menghafal Al Qur’an semacam ini.
Mendengar komentar sahabat Ibnu Abbas ini, Khalifah Umar segera menghardiknya dengan berkata: Diamlah!
Mendapat hardikan keras dari Khalifah Umar, sahabat Ibnu Abbas segera diam, dan tidak selang berapa lama beliau pulang ke rumahnya dalam kondisi galau dan sedih, dan berkata: Sungguh sebelumnya aku begitu dipercaya oleh Khalifah Umar, namun sekarang aku merasa ia tidak akan pernah percaya lagi kepadaku. Sesampai di rumah, sahabat Ibnu Abbas segera berbaring di atas tempat tidur sampai-sampai para wanita dari keluarganya mengira beliau sakit, sehingga mereka menjenguknya, padahal beliau sehat wal afiat dan tiada menderita sakit sama sekali.
Tiada yang terjadi selain beliau begitu terpukul mendapat hardikan Khalifah Umar.
Di saat beliau masih berbaring hanyut dalam kegalauan, tiba-tiba ada seorang lelaki mendatanginya dan berkata: segera penuhi panggilan Amirul Mukminin.
Segera sahabat Ibnu Abbas bergegas keluar rumah hendak menuju ke rumah Khalifah Umar, namun ternyata ia mendapatkan Khalifah Umar sudah berdiri menantinya.
Segera Khalifah Umar menggandeng tangan Ibnu Abbas, dan menepi ke tempat yang sunyi, dan berkata: Apa yang engkau tidak suka dari ucapan lelaki tersebut?
Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, bila aku telah melakukan kesalahan, maka aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya, lalu silahkan engkau menghukumku sesuka hatimu.
Beliau kembali berkata: Sungguh engkau harus menceritakan kepadaku apa yang tidak engkau suka dari ucapan lelaki tersebut?
Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, setiap kali masyarakat tergesa-gesa seperti ini dalam menghafalkan Al Qur’an, niscaya mereka mudah terjatuh pada kesalah pahaman terhadap makna Al Qur’an, dan bila merela telah salah memahami Al Qur’an, niscaya mereka bersilang pendapat, dan bila mereka telah bersilang pendapat, niscaya mereka berselisih, dan bila mereka telah berselisih, niscaya mereka berperang.
Khalifah Umar menimpali ucapan sahabat Ibnu Abbas dengan berkata: Sungguh beruntung ayahmu, sungguh aku sudah sekian lama menyembunyikan pendapat seperti ini dari orang lain, hingga akhirnya engkau mengutarakannya kepadaku.
(Ma’mar bin Ar Rasyid dan Abdurrazzaq)
Imam ِAl Baihaqy meriwayatkan dari Jalur Imam Malik bahwa dahulu, sahabat Umar bin Al Khatthab mempelajari surat Al Baqarah selama dua belas (12) tahun. Tatkala beliau selesai dari mempelajarinya, beliau menyembelih seekor onta.
(Al Baihaqy dan Al Khathib Al Baghdady)
Imam Ibnul Qayyim menukilkan dari sebagian salaf yang berkata: Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan kandungannya, namun mereka hanya menjadikan bacaannya sebagai amalan. Karena itu dahulu orang yang disebt sebagai Ahli Al Qur’an adalah orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan kandungannya, walaupun ia tidak mengahafalnya. Adapun orang yang menghafalkan teksnya, namun ia tidak memahaminya, dan juga tidak mengamalkan kandungannya, maka ia tidak layak disebut sebagai Ahli Al Qur’an, walaupun ia mampu menghafalnya secepat anak panah yang melesat.
Az Zurqaani mengomentari riwayat Umar di atas dengan berkata: Lamanya beliau menghafal bukan karena beliau lemah hafalannya, namun karena beliau sibuk mempelajari kandungan, hukum-hukum dan hal lain yang terkait dengannya.
________________________________
Dipost Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri -hafizhahullah- Tsulasa 4 Shofar 1439 H / 24 Oktober 2017
http://www.salamdakwah.com/artikel/4506-perbandingan-menghafal-al-quran-di-zaman-sahabat-dengan-zaman-selain-mereka

Comments

Popular posts from this blog

Cara Agar Tidak Ada yang Bisa Mencelakai Kita

عن عبد الرحمن بن أبي الزناد عن أبيه عن أبان بن عثمان قال: سمعت عثمان بن عفان رضي الله عنه يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ Dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad, dari ayahnya, dari Aban bin Utsman berkata, “Aku mendengar Utsman bin Affan radahiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidaklah seseorang mengucapkan di setiap pagi harinya dan di setiap waktu petang malamnya bacaan ‘bismillahilladzi laa yadhurrru ma’asmihi sya-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘alim’ (Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada yang bisa memberikan celakan dengan nama-Nya di bumi maupun di langit, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak ada yang bisa mencelakainya.’...

Bekerjalah Kawan, walau Serabutan..

Seorang laki2 senantiasa mulia karena bekerja dan nafkahnya yang halal.. walau berapapun kemampuannya.. “Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”_ Abdullah bin Mas’ud اطلبوا من فضل الله ولا تكونوا عيالاً على المسلمين “Carilah rezeki dari Allah dan janganlah menjadi beban bagi kaum muslimin”. _ Sufyan Ats-Tsauri "..engkau akan tetap mulia selama tidak bergantung pada orang lain” _Ayyub As Sikhtiyani إن أطيب كسب الرجل من يده “Pendapatan yang terbaik dari seseorang adalah hasil jerih payah tangannya” (HR. Ahmad 4: 141, hasan lighoirihi) “Cukuplah seseorang dianggap berdosa karena menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungan hidupnya.”(HR.Abu Daud dan Ahmad) Sumber :  https://rumaysho.com/3240-apa-pekerjaan-yang-terbaik.html Sumber:  http://muslim.or.id/2484-bagimu-pemuda-malas-nan-enggan-bek … Semoga Allah mudahkan Urusan Kita Semua.. Allahu a'lam

>> Urutan Tempat Shalat yang Lebih Utama bagi Wanita <<

Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa’idy, sesungguhnya beliau datang (menemui) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:  “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama anda.  Beliau menjawab:  “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan shalat bersamaku,  akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu , dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik dibandingkan  shalatmu di masjid khusus rumahmu , dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu , dan shalatmu di masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjidku . Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap. Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (wafat)."  (HR. Ahmad, para perawinya tsiqah/terpercay...