Apa itu Manhaj? Salaf itu apa?
Manhaj = cara, metode, pola (Eng: Way); Salaf = Nenek Moyang, Pendahulu, (Eng: Ancestor); Salafiyyin = Pengikut Salaf (dalam Islam yakni 3 Generasi Muslimin Awal yang Soleh / Salafush Sholeh, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in)
Seseorang dikatakan mengikuti Manhaj Salaf / Salafiyyin apabila orang itu mengikuti bagaimana Metode Beragama 3 Generasi Awal Muslimin..
Mereka mengikuti Al Qur’an, Sunnah, lalu bagaimana 3 Generasi Awal Muslimin memahami dan menerapkan Al Qur’an dan Sunnah.
Ciri Salafiyyin terlihat dari bagaimana pola atau tata cara mereka mempelajari dan Mengamalkan Islam.. bagaimana mereka berhubungan dengan Allah (Ibadah) dan juga Manusia (Mu’amalah)
Dalam Ibadah, mereka senantiasa mengikuti Ibadahnya generasi Salaf.. Masuk didalamnya amalan hati (semisal bagaimana memahami dan menerapkan dalil, keyakinan) dan juga badan (shalat, zakat, dll), karena selain diperintahkan, Generasi Sahabat juga adalah generasi terbaik (mencakup keyakinan, akhlak, ibadah dll).. oleh karena itu tentu saja yang terbaik itu harus diikuti, bukan mereka yang harus mengikuti. Selain juga Islam telah sempurna di jaman mereka dan setealah Islam Sempurna dan Nabi Wafat, mereka tidak pernah bersepakat membuat jenis ibadah yang baru. Disamping itu juga Ibadah itu sejatinya proses menghambakan / menghinakan diri kepada-Nya sehingga tentu harus ikut apa mau-Nya.. bukan semaunya si hamba sendiri.. Allah telah suruh kita mengikuti Para Sahabat.. jadi ikuti saja.. jangan semaunya sendiri..
Dalam bab Mu’amalah atau sering disebut perkara Dunia.. cukup hindari apa yang dilarang saja.. karena sudah umum bahwa perkara dunia senantiasa terus terjadi Inovasi (Bid’ah) didalamnya.. sebagaimana peralatan semisal pakaian, jenis makanan, peralatan perang, makan / minum, kendaraan, dst.. yang senantiasa ada yang baru disana.. cukup hindari larangan dalam Mu’amalah sebagaimana para Sahabat dan juga Tabi’in menghindari hal yang haram dalam Mu’amalah dan menggunakan atau menjalankan perkara atau alat yang tidak diharamkan dalam Mu’amalah.
Diantara dalilnya adalah..
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]
“Artinya : Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya (mendahului) persaksiannya” [Hadits Mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al-Manawi, Al-Kinani]
Perkataan Imam Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum, karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in.”
Ibnul Qayyim berkata:
“Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim…” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44).
Sumber: https://almanhaj.or.id/1765-mengapa-manhaj-salaf.html
Sumber: https://muslim.or.id/430-mari-mengenal-manhaj-salaf.html
Demikian, Semoga Bermanfaaat.. Allahu a’lam
Sumber: https://muslim.or.id/430-mari-mengenal-manhaj-salaf.html
Demikian, Semoga Bermanfaaat.. Allahu a’lam
Comments
Post a Comment